Jakarta, 12 September 2026 – Anggota DPD RI Samuel Wattimena mendorong para pengelola desa wisata untuk memperkuat sinergi dengan berbagai pihak agar potensi pariwisata di daerah dapat berkembang secara berkelanjutan. Kolaborasi dinilai menjadi bagian penting karena pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam atau kekayaan budaya yang dimiliki suatu wilayah. Pengelola membutuhkan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, hingga sektor ekonomi kreatif untuk menciptakan pengalaman wisata yang menarik. Kerja sama yang terbangun dengan baik juga dapat membantu memperluas promosi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan. Pada saat yang sama, masyarakat setempat harus tetap ditempatkan sebagai pelaku utama agar manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata tidak mengalir keluar dari desa. Pengembangan tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus memperkuat perekonomian lokal.
Sinergi antarpengelola desa wisata dapat dimulai dengan membangun jaringan yang memungkinkan setiap daerah saling berbagi pengalaman. Desa yang telah berhasil mengembangkan produk wisata dapat memberikan contoh mengenai pengelolaan destinasi, promosi, pelayanan pengunjung, hingga pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, desa yang masih berada dalam tahap pengembangan dapat mempelajari praktik tersebut dan menyesuaikannya dengan karakter wilayah masing-masing. Kerja sama tidak berarti setiap desa harus menawarkan produk yang sama karena keunikan justru menjadi kekuatan utama pariwisata berbasis masyarakat. Pengelola perlu mengenali identitas yang membedakan wilayahnya dari destinasi lain. Keunikan tersebut dapat berasal dari budaya, alam, kuliner, kerajinan, sejarah, maupun aktivitas keseharian masyarakat. Dengan identitas yang jelas, desa wisata akan lebih mudah menentukan arah pengembangan dan strategi promosinya.
Keterlibatan masyarakat menjadi faktor yang menentukan keberhasilan sebuah desa wisata dalam jangka panjang. Warga tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika wisatawan mulai datang ke wilayah mereka. Masyarakat dapat terlibat sebagai pengelola homestay, pemandu wisata, pelaku kuliner, pengrajin, penyedia transportasi, maupun pengembang berbagai produk kreatif. Semakin banyak rantai ekonomi yang dikelola warga, semakin besar pula manfaat pariwisata yang dapat bertahan di dalam desa. Namun, peningkatan kapasitas diperlukan agar pelayanan yang diberikan memenuhi harapan pengunjung. Pelatihan mengenai kebersihan, keamanan, komunikasi, pengelolaan usaha, dan pemasaran digital dapat membantu masyarakat meningkatkan kualitas layanan. Pendampingan yang berkelanjutan lebih dibutuhkan dibandingkan program pelatihan yang hanya dilakukan sekali.
Pemerintah daerah mempunyai peran penting dalam menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan desa wisata. Infrastruktur dasar seperti jalan, air bersih, sanitasi, jaringan komunikasi, dan fasilitas kesehatan dapat menentukan kenyamanan wisatawan sekaligus kualitas kehidupan masyarakat. Pengembangan destinasi juga perlu terhubung dengan perencanaan wilayah agar pembangunan fasilitas tidak merusak karakter lingkungan. Pemerintah dapat membantu melalui promosi, peningkatan kapasitas SDM, fasilitasi perizinan, serta hubungan dengan pelaku industri pariwisata. Dukungan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa dan bukan menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh wilayah. Setiap destinasi mempunyai tingkat kesiapan serta tantangan yang berbeda. Pengelola dan pemerintah karena itu perlu menyusun prioritas berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Sektor ekonomi kreatif dapat menjadi penggerak penting dalam meningkatkan nilai tambah desa wisata. Wisatawan tidak hanya membutuhkan tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman dan produk yang dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka. Kuliner khas, kerajinan, pertunjukan seni, pakaian tradisional, maupun produk lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata. Pengemasan yang baik dapat meningkatkan nilai jual tanpa harus menghilangkan identitas asli produk. Cerita mengenai proses pembuatan dan hubungan produk dengan tradisi masyarakat juga dapat menjadi daya tarik tersendiri. Pelaku UMKM perlu memperoleh ruang yang cukup dalam setiap kegiatan wisata sehingga peningkatan jumlah pengunjung memberikan dampak ekonomi secara langsung. Sinergi antara pengelola destinasi dan pelaku usaha lokal dapat menciptakan rantai ekonomi yang lebih kuat.
Digitalisasi juga memberikan peluang besar bagi desa wisata untuk menjangkau calon pengunjung tanpa membutuhkan biaya promosi yang terlalu tinggi. Media digital dapat digunakan untuk memperkenalkan daya tarik, kalender kegiatan, pilihan penginapan, kuliner, serta informasi perjalanan menuju destinasi. Namun, promosi harus memberikan gambaran yang sesuai dengan kondisi sebenarnya agar wisatawan tidak merasa memperoleh informasi yang berlebihan. Sistem reservasi dan pembayaran digital juga dapat membantu meningkatkan kemudahan transaksi. Pengelola perlu memastikan informasi mengenai harga dan fasilitas tersedia secara jelas. Ulasan pengunjung dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui aspek pelayanan yang masih membutuhkan perbaikan. Penggunaan teknologi secara tepat dapat membantu desa wisata bersaing sekaligus membangun hubungan langsung dengan wisatawan.
Samuel Wattimena juga menempatkan kolaborasi sebagai bagian penting untuk menjaga keberlanjutan budaya yang menjadi daya tarik berbagai desa wisata. Pertumbuhan kunjungan tidak boleh membuat tradisi masyarakat berubah hanya untuk memenuhi selera wisatawan. Tokoh adat, seniman, dan masyarakat lokal perlu mempunyai peran dalam menentukan bagaimana kebudayaan mereka ditampilkan. Tidak seluruh ritual maupun aktivitas tradisional harus dijadikan pertunjukan karena sebagian dapat mempunyai nilai yang bersifat khusus bagi masyarakat. Pengelola perlu memahami batas antara promosi budaya dan komersialisasi yang berlebihan. Wisatawan juga dapat diberikan informasi mengenai aturan dan kebiasaan yang harus dihormati ketika berkunjung. Pendekatan tersebut membantu memastikan pariwisata turut mendukung pelestarian budaya dan bukan justru menghilangkan makna aslinya.
Kelestarian lingkungan menjadi unsur lain yang perlu dijaga ketika sebuah desa semakin dikenal wisatawan. Peningkatan jumlah pengunjung dapat menghasilkan lebih banyak sampah, meningkatkan kebutuhan air, serta memberikan tekanan terhadap kawasan alam apabila tidak dikelola dengan baik. Pengelola perlu memperhitungkan kapasitas destinasi sebelum mengejar pertumbuhan kunjungan dalam jumlah besar. Sistem pengelolaan sampah, sanitasi, serta perlindungan terhadap kawasan sensitif harus dipersiapkan sejak awal. Wisatawan juga dapat dilibatkan melalui aturan yang mendorong perilaku bertanggung jawab selama berada di desa. Masyarakat mempunyai kepentingan terbesar menjaga lingkungan karena kawasan tersebut merupakan tempat tinggal dan sumber kehidupan mereka. Pariwisata yang merusak lingkungan pada akhirnya akan menghilangkan daya tarik yang menjadi modal utama desa.
Kolaborasi antarwilayah juga dapat dilakukan dengan menghubungkan beberapa desa wisata menjadi satu jalur perjalanan. Setiap desa dapat menawarkan pengalaman berbeda sehingga wisatawan mempunyai alasan untuk tinggal lebih lama di suatu daerah. Paket perjalanan bersama dapat membantu menyebarkan kunjungan dan manfaat ekonomi agar tidak hanya terkonsentrasi pada satu destinasi. Kerja sama tersebut membutuhkan koordinasi mengenai transportasi, jadwal kegiatan, harga, serta standar pelayanan. Pelaku perjalanan dapat dilibatkan untuk membantu membangun paket yang sesuai dengan karakter pasar. Pemerintah daerah juga dapat mempromosikan beberapa desa dalam satu narasi destinasi yang lebih luas. Pendekatan seperti ini memungkinkan desa yang belum terlalu dikenal memperoleh manfaat dari destinasi yang sudah memiliki jumlah pengunjung lebih besar.
Dorongan Samuel Wattimena agar pengelola desa wisata memperkuat sinergi pada akhirnya menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun pariwisata yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Keberhasilan desa wisata tidak cukup diukur dari banyaknya wisatawan, tetapi juga peningkatan pendapatan warga, bertambahnya kesempatan kerja, terjaganya lingkungan, serta keberlanjutan budaya lokal. Pemerintah, masyarakat, pelaku UMKM, komunitas, dan industri pariwisata perlu menjalankan peran yang saling melengkapi. Digitalisasi dapat memperluas promosi, sementara peningkatan kualitas SDM membantu menjaga pelayanan kepada pengunjung. Kerja sama antardesa juga dapat membentuk jaringan destinasi yang lebih kuat dan mampu menawarkan pengalaman wisata yang beragam. Dengan pengelolaan yang konsisten dan berbasis masyarakat, desa wisata berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus sarana menjaga kekayaan budaya Indonesia.





