Jakarta, 10 September 2026 – Tim nasional bola basket putra Indonesia dipastikan berada dalam kondisi fit menjelang pertandingan pertama menghadapi tuan rumah Jepang pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Kamis (10/9). Pelaksana Tugas Manajer Timnas Basket Putra Indonesia Ahmad Nuradin mengatakan seluruh anggota tim telah tiba dengan selamat di Jepang dan siap menjalani pertandingan. Kondisi tersebut menjadi kabar positif setelah perjalanan skuad Merah Putih menuju Nagoya diwarnai sejumlah kendala akibat faktor alam. Selain harus mengubah rute penerbangan karena erupsi Gunung Anak Krakatau, para pemain juga menghadapi hujan lebat dan banjir setelah tiba di Jepang. Meski persiapan sempat terganggu, fokus dan mentalitas pemain disebut tetap terjaga menjelang pertandingan pertama.
Perjalanan menuju Jepang menjadi tantangan tersendiri karena rombongan awalnya direncanakan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Singapura pada 7 September. Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau dan gangguan operasional penerbangan di Jakarta membuat rencana tersebut harus diubah. Seluruh rombongan kemudian menempuh perjalanan darat dari Jakarta menuju Surabaya untuk mengejar penerbangan melalui Bandara Internasional Juanda. Setelah perjalanan panjang tersebut, tim terbang dari Surabaya menuju Singapura sebelum melanjutkan penerbangan menuju Nagoya pada dini hari. Rombongan akhirnya tiba di Jepang pada Selasa (8/9) dalam kondisi aman meskipun telah melewati perjalanan yang jauh lebih melelahkan dibandingkan rencana awal.
Tantangan ternyata belum berakhir setelah Andakara Prastawa Dhyaksa dan rekan-rekannya tiba di Nagoya. Hujan deras dan banjir yang melanda wilayah tersebut menyebabkan mobilitas tim terganggu dan agenda latihan resmi tidak dapat berjalan sesuai rencana. Para pemain bahkan sempat menerima peringatan darurat dan harus meninggalkan tempat mereka beristirahat tidak lama setelah tiba. Derrick Michael menggambarkan peringatan tersebut muncul sekitar dua jam setelah tim mencapai Nagoya usai menjalani perjalanan panjang dari Indonesia. Kondisi tersebut membuat pemain harus kembali beradaptasi ketika tubuh sebenarnya membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi setelah perjalanan.
Cuaca ekstrem juga membuat pemerintah setempat menghentikan sementara sejumlah aktivitas demi keselamatan masyarakat dan kontingen yang sudah berada di Nagoya. Agenda latihan tim basket Indonesia menjadi salah satu kegiatan yang terdampak sehingga tim manajemen harus melakukan penyesuaian. Chef de Mission Kontingen Indonesia Todotua Pasaribu kemudian berkoordinasi dengan manajemen tim untuk mencari alternatif tempat yang setidaknya dapat digunakan pemain melakukan pemanasan. Pemerintah Indonesia juga terus berkomunikasi dengan panitia penyelenggara mengenai situasi yang berkembang di lapangan. Kendala tersebut dipandang sebagai kondisi force majeure sehingga keselamatan atlet tetap menjadi pertimbangan utama sebelum aktivitas latihan kembali dilakukan.
Ahmad Nuradin memastikan berbagai gangguan tersebut tidak membuat kondisi fisik para pemain mengalami masalah serius. Seluruh anggota tim dinyatakan fit dan siap menghadapi Jepang meskipun jadwal latihan harus mengalami penyesuaian. Tim juga terus melakukan koordinasi dengan panitia Asian Games serta NOC Indonesia untuk menyesuaikan agenda dengan situasi di Nagoya. Fokus utama staf pelatih adalah memastikan energi pemain dapat dipulihkan sekaligus menjaga kesiapan mental sebelum memasuki pertandingan. Timnas menyadari pertandingan pertama akan menjadi ujian berat sehingga segala kendala nonteknis berusaha tidak dibawa ke dalam lapangan.
Indonesia membawa 12 pemain untuk bersaing pada Asian Games 2026 di bawah arahan pelatih kepala David Singleton. Skuad tersebut terdiri dari Derrick Michael, Abraham Damar Grahita, Ali Bagir, Andakara Prastawa, Yudha Saputera, Vincent Kosasih, Hendrick Yonga, Lester Prosper, Dame Diagne, Pandu Wiguna, Fhirdan Guntara, dan Anthony Beane. Yudha dipercaya mengemban tugas sebagai kapten, sementara David Singleton didampingi Andri Malay dan Ismael dalam jajaran kepelatihan. Indonesia tidak diperkuat Marques Bolden karena klubnya di Jepang tidak melepas sang pemain mengingat Asian Games berada di luar kalender kompetisi FIBA. Sebaliknya, Derrick mendapatkan izin dari Saga Ballooners sehingga tetap dapat menjadi bagian penting dari kekuatan Indonesia.
Persaingan yang dihadapi Indonesia sejak fase awal terbilang berat karena Merah Putih berada satu grup bersama Jepang, Korea Selatan, dan Arab Saudi. Jepang menjadi lawan pertama sebelum Indonesia menghadapi Korea Selatan pada 11 September dan Arab Saudi pada 13 September. Dua negara Asia Timur tersebut mempunyai tradisi basket yang kuat sehingga Indonesia membutuhkan konsistensi permainan sejak pertandingan pertama. Ketua Umum PP Perbasi Budisatrio Djiwandono sebelumnya menilai komposisi tim saat ini merupakan kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda yang dapat memberikan perlawanan. Ia mengakui perjuangan Indonesia tidak mudah, tetapi tetap percaya skuad yang dipersiapkan mempunyai kemampuan untuk bersaing.
Pertandingan melawan Jepang sekaligus menjadi kesempatan untuk mengukur kesiapan Indonesia setelah menjalani berbagai persiapan menuju Asian Games. Menghadapi tuan rumah membutuhkan disiplin tinggi, terutama dalam menjaga pertahanan, mengendalikan tempo, mengurangi turnover, serta memaksimalkan setiap kesempatan mencetak angka. Indonesia juga perlu menjaga konsentrasi sejak kuarter pertama agar Jepang tidak memperoleh momentum terlalu cepat. Kehadiran pemain seperti Derrick, Abraham, Yudha, Lester, dan Prastawa memberikan sejumlah pilihan bagi David Singleton dalam mengatur serangan maupun rotasi. Kondisi seluruh pemain yang dinyatakan fit menjadi modal penting karena pelatih mempunyai lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan strategi selama pertandingan.
Keberangkatan lebih awal sebenarnya dirancang agar para pemain mempunyai kesempatan melakukan adaptasi terhadap cuaca, lingkungan, dan kondisi pertandingan di Jepang. Situasi alam kemudian membuat rencana tersebut tidak berjalan sepenuhnya sesuai agenda, tetapi tim berusaha memanfaatkan waktu yang tersedia untuk melakukan pemulihan. Sekjen Perbasi Nirmala Dewi sebelumnya optimistis para pemain dapat beradaptasi karena sebagian besar telah terbiasa bepergian ke berbagai negara untuk menjalani pertandingan maupun latihan. Pengalaman tersebut diharapkan membantu skuad mengatasi kelelahan perjalanan sekaligus perubahan situasi secara cepat. Kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting karena pertandingan pertama berlangsung hanya beberapa hari setelah rombongan tiba di Nagoya.
Timnas basket putra kini memilih mengalihkan seluruh perhatian kepada pertandingan dan tidak lagi menjadikan perjalanan panjang maupun banjir sebagai alasan. Ahmad Nuradin menegaskan pemain dalam kondisi siap bertanding dan berkomitmen memberikan kemampuan terbaik bagi Indonesia. Pertandingan menghadapi Jepang akan menjadi pembuka perjalanan Merah Putih sekaligus berlangsung lebih awal dibandingkan upacara pembukaan Asian Games yang dijadwalkan pada 19 September. Hasil positif dari cabang basket diharapkan dapat memberikan tambahan semangat bagi kontingen Indonesia lainnya yang secara bertahap tiba di Jepang. Setelah melewati perjalanan panjang, perubahan rute, peringatan darurat, hingga gangguan latihan akibat banjir, kesiapan fisik dan mental para pemain kini menjadi modal utama Indonesia untuk memberikan perlawanan maksimal kepada tuan rumah.





