Jakarta, 11 September 2026 – Keberhasilan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan kecanggihan teknologi, jumlah model yang berhasil dibuat, maupun besarnya investasi yang dikeluarkan. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mampu membantu menyelesaikan berbagai persoalan. AI perlu diarahkan menjadi instrumen yang meningkatkan produktivitas, kualitas pelayanan, efisiensi kerja, serta kemampuan manusia dalam mengambil keputusan. Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika penggunaan AI berkembang cepat dan mulai memasuki berbagai bidang kehidupan. Indonesia mempunyai peluang besar memanfaatkan perkembangan ini untuk mempercepat transformasi ekonomi dan pelayanan publik. Namun, pengembangan teknologi harus tetap berorientasi pada kebutuhan manusia sehingga inovasi tidak berhenti sebagai pencapaian teknis semata.
Kemajuan AI dalam beberapa tahun terakhir telah menghasilkan berbagai sistem yang mampu mengolah data dalam jumlah besar, memahami bahasa, menghasilkan gambar, membantu pemrograman, hingga mendukung proses analisis yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang. Kemampuan tersebut membuat AI semakin banyak digunakan oleh perusahaan, pemerintah, lembaga pendidikan, peneliti, dan masyarakat umum. Meski demikian, kemampuan teknis yang tinggi belum otomatis menunjukkan bahwa suatu teknologi telah berhasil diterapkan. Sebuah sistem AI baru dapat memberikan nilai ketika mampu menjawab kebutuhan pengguna secara tepat dan memberikan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, evaluasi terhadap dampak menjadi bagian penting dari setiap proses pengembangan. Efisiensi waktu, peningkatan produktivitas, kualitas layanan, dan penyelesaian masalah dapat menjadi sejumlah indikator yang diperhatikan. Pendekatan berbasis manfaat juga dapat membantu menentukan teknologi mana yang memang layak dikembangkan lebih jauh.
Indonesia mempunyai kebutuhan yang sangat beragam sehingga pemanfaatan AI dapat diarahkan ke banyak sektor strategis. Pada bidang kesehatan, teknologi dapat membantu pengolahan data, mendukung penelitian, dan meningkatkan efisiensi administrasi pelayanan. Dalam pertanian, AI dapat digunakan untuk membaca informasi cuaca, kondisi tanaman, produktivitas, serta berbagai data yang membantu petani menentukan tindakan. Teknologi serupa dapat dimanfaatkan dalam pendidikan untuk membantu proses pembelajaran yang lebih adaptif dan memberikan akses pengetahuan kepada masyarakat di berbagai wilayah. Sektor transportasi, kebencanaan, lingkungan, manufaktur, dan pelayanan pemerintahan juga mempunyai ruang pemanfaatan yang besar. Namun, setiap penerapan membutuhkan desain yang sesuai dengan karakteristik masalah dan kondisi masyarakat Indonesia. Penggunaan AI tidak dapat hanya menyalin model penerapan dari negara lain tanpa mempertimbangkan kebutuhan lokal.
Pengembangan AI nasional juga membutuhkan data berkualitas karena kemampuan sistem sangat bergantung pada informasi yang digunakan dalam proses pembangunan dan pengoperasiannya. Data yang tidak lengkap, tidak representatif, atau mengandung bias dapat menghasilkan keluaran yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika teknologi digunakan untuk membantu keputusan yang mempunyai dampak terhadap masyarakat. Indonesia memiliki keragaman bahasa, budaya, kondisi geografis, serta karakteristik sosial yang perlu diperhitungkan dalam pembangunan sistem AI. Pengembangan dataset lokal dapat membantu teknologi memahami konteks Indonesia dengan lebih baik. Pada saat yang sama, tata kelola data harus memberikan perlindungan terhadap privasi dan keamanan masyarakat. Kualitas teknologi dengan demikian tidak hanya ditentukan oleh besarnya data, tetapi juga ketepatan, keamanan, dan relevansinya.
BRIN juga melihat pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem AI yang mampu menghasilkan manfaat secara luas. Pemerintah tidak dapat mengembangkan seluruh teknologi secara mandiri, sementara industri membutuhkan dukungan penelitian dan sumber daya manusia untuk mempercepat inovasi. Perguruan tinggi dan lembaga riset mempunyai peran menghasilkan pengetahuan, metode, serta talenta yang kemudian dapat diterapkan dalam kebutuhan nyata. Perusahaan teknologi dapat membawa kemampuan tersebut menuju produk dan layanan yang digunakan masyarakat dalam skala lebih besar. Kolaborasi juga memungkinkan biaya penelitian dan pengembangan dibagi secara lebih efektif sehingga inovasi tidak berjalan sendiri-sendiri. Indonesia membutuhkan hubungan yang kuat antara penelitian dasar, pengembangan teknologi, dan implementasi komersial. Dengan ekosistem tersebut, hasil riset mempunyai peluang lebih besar untuk memberikan dampak langsung terhadap perekonomian.
Sumber daya manusia menjadi faktor lain yang menentukan kemampuan Indonesia memperoleh manfaat dari perkembangan AI. Kebutuhan tidak hanya terbatas pada programmer atau ahli pembelajaran mesin, tetapi juga mencakup peneliti, analis data, ahli keamanan siber, desainer produk, pakar kebijakan, serta tenaga profesional dari berbagai bidang. Pengembangan teknologi kesehatan, misalnya, membutuhkan keterlibatan tenaga medis agar sistem memahami kebutuhan klinis dan tidak hanya bekerja berdasarkan pertimbangan teknis. Pendekatan multidisiplin diperlukan karena AI pada akhirnya digunakan dalam lingkungan yang melibatkan manusia dan berbagai aturan. Pendidikan dan pelatihan juga perlu diperluas agar masyarakat mempunyai kemampuan menggunakan teknologi secara produktif. Literasi AI akan semakin penting untuk membantu pengguna memahami kemampuan sekaligus keterbatasan sistem yang mereka gunakan.
Aspek etika dan keamanan juga tidak dapat dipisahkan dari ukuran keberhasilan AI. Teknologi yang sangat canggih tetapi menimbulkan diskriminasi, melanggar privasi, menyebarkan informasi keliru, atau menciptakan risiko keamanan tidak dapat dianggap memberikan manfaat optimal. Pengembang perlu melakukan pengujian terhadap sistem sebelum digunakan dalam skala luas, terutama untuk aplikasi yang mempunyai konsekuensi besar. Mekanisme pengawasan manusia tetap dibutuhkan pada berbagai penggunaan agar keputusan penting tidak sepenuhnya diserahkan kepada sistem otomatis. Transparansi mengenai cara penggunaan AI juga dapat membantu membangun kepercayaan masyarakat. Regulasi pada saat yang sama perlu memberikan perlindungan tanpa menutup ruang inovasi. Keseimbangan antara pengembangan teknologi dan mitigasi risiko menjadi salah satu tantangan penting dalam membangun ekosistem AI nasional.
Perkembangan AI juga membawa perubahan terhadap dunia kerja yang perlu dipersiapkan sejak dini. Sejumlah pekerjaan dapat mengalami otomatisasi pada bagian tertentu, sementara pekerjaan baru akan muncul seiring berkembangnya teknologi. Dalam banyak bidang, AI lebih mungkin mengubah cara seseorang bekerja dibandingkan langsung menghilangkan seluruh profesinya. Pekerja dapat menggunakan teknologi untuk mempercepat tugas administratif, mengolah informasi, atau membantu menghasilkan analisis awal. Kondisi tersebut membuat peningkatan keterampilan menjadi semakin penting agar tenaga kerja mampu beradaptasi. Program pendidikan dan pelatihan perlu mengikuti perkembangan kebutuhan industri sehingga kesenjangan keterampilan tidak semakin besar. Keberhasilan AI dari perspektif sosial juga dapat dinilai berdasarkan kemampuannya meningkatkan produktivitas manusia tanpa memperbesar ketimpangan.
Pengembangan teknologi dalam negeri menjadi penting agar Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada sistem yang dikembangkan di luar negeri. Ketergantungan yang terlalu besar dapat menimbulkan persoalan terkait biaya, kontrol data, keamanan, hingga kemampuan menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan nasional. Indonesia tidak harus membangun seluruh komponen AI secara mandiri, tetapi perlu memiliki kemampuan strategis pada bidang yang dianggap penting. Penguatan pusat penelitian, infrastruktur komputasi, pengembangan model lokal, dan ketersediaan talenta menjadi bagian dari kebutuhan tersebut. Industri nasional juga dapat diarahkan menghasilkan aplikasi AI yang menyelesaikan persoalan spesifik di Indonesia. Kemampuan lokal akan memberikan posisi yang lebih kuat ketika Indonesia bekerja sama dengan perusahaan maupun negara lain. Kolaborasi internasional tetap diperlukan, tetapi harus menghasilkan transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas nasional.
Pada akhirnya, keberhasilan AI Indonesia akan terlihat ketika teknologi tersebut benar-benar memberikan perubahan positif dalam kehidupan masyarakat. Pencapaian tidak cukup dinilai dari banyaknya aplikasi yang diluncurkan atau seberapa besar model AI yang berhasil dikembangkan. Dampak terhadap produktivitas, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, penelitian, industri, dan kesejahteraan masyarakat menjadi ukuran yang lebih substantif. Pengembangan juga harus memastikan manfaat teknologi dapat dirasakan secara luas, termasuk oleh masyarakat di luar pusat-pusat ekonomi dan teknologi. Dengan pendekatan tersebut, AI dapat ditempatkan sebagai alat untuk membantu manusia menyelesaikan masalah, bukan sekadar simbol kemajuan digital. Kolaborasi pemerintah, BRIN, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat akan menentukan arah perkembangan teknologi tersebut. Orientasi pada kemanfaatan menjadi kunci agar kemajuan AI Indonesia berjalan seiring dengan kepentingan sosial dan pembangunan nasional.





