Bengkulu, 6 September 2026 – Aktivitas penerbangan di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu mengalami gangguan setelah 14 penerbangan dari empat maskapai ditunda atau dibatalkan akibat dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Minggu. Gangguan terutama terjadi karena abu vulkanik memengaruhi jalur penerbangan sekaligus operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang menjadi penghubung utama penerbangan dari dan menuju Bengkulu. Kondisi tersebut membuat rotasi pesawat tidak dapat berjalan sesuai jadwal sehingga berdampak terhadap penerbangan berikutnya. Empat maskapai yang terdampak terdiri atas Batik Air, Super Air Jet, Citilink, dan Susi Air. Rute yang mengalami gangguan antara lain Bengkulu-Jakarta dan sebaliknya serta penerbangan yang menghubungkan Bengkulu dengan Mukomuko. Penundaan dan pembatalan tersebut berlangsung hingga sedikitnya pukul 13.30 WIB sambil menunggu perkembangan kondisi ruang udara dan operasional bandara terkait.
General Manager Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu Trisna Wijaya menjelaskan gangguan penerbangan terjadi sebagai dampak berantai dari kendala operasional di Bandara Soekarno-Hatta. Sebagian besar penerbangan reguler dari Bengkulu mempunyai keterkaitan dengan Jakarta sehingga ketika pesawat tidak dapat lepas landas dari bandara penghubung tersebut, rotasi armada menuju Bengkulu otomatis terganggu. Situasi tersebut kemudian memengaruhi penerbangan yang seharusnya kembali berangkat dari Bengkulu menggunakan pesawat yang sama. Maskapai harus menyesuaikan jadwal berdasarkan posisi armada, kondisi jalur penerbangan, dan perkembangan sebaran abu vulkanik. Pengelola Bandara Fatmawati Soekarno terus berkoordinasi dengan maskapai untuk mengetahui kemungkinan penerbangan dapat kembali dilayani. Keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama sebelum keputusan untuk mengoperasikan kembali penerbangan diambil.
Jumlah penerbangan yang terdampak mengalami peningkatan dibandingkan laporan pada Minggu pagi yang sebelumnya mencatat lima jadwal dibatalkan. Setelah dilakukan pembaruan terhadap kondisi operasional, jumlahnya bertambah menjadi 14 penerbangan dari empat maskapai. Batik Air tercatat mempunyai sejumlah penerbangan Bengkulu-Jakarta dan Jakarta-Bengkulu yang terdampak. Super Air Jet juga mengalami pembatalan pada penerbangan yang menghubungkan kedua kota tersebut. Kondisi serupa terjadi terhadap sejumlah penerbangan Citilink, sementara Susi Air terdampak pada penerbangan regional yang terhubung dengan Bengkulu. Perubahan jumlah penerbangan terdampak menunjukkan kondisi operasional masih bergerak dinamis mengikuti perkembangan abu vulkanik dan keputusan keselamatan masing-masing maskapai.
Gangguan terhadap penerbangan Bengkulu tidak semata-mata disebabkan kondisi di sekitar Bandara Fatmawati Soekarno. Posisi Bandara Soekarno-Hatta sebagai salah satu pusat rotasi pesawat membuat penghentian sementara operasional di Jakarta memberikan dampak berantai terhadap berbagai bandara di daerah. Pesawat yang semestinya berangkat dari Jakarta menuju Bengkulu tidak dapat melakukan perjalanan sesuai jadwal sehingga penerbangan lanjutan dari Bengkulu ikut tertunda atau dibatalkan. Ketika operasional kembali dibuka, maskapai juga membutuhkan waktu untuk menata ulang rotasi armada dan awak pesawat. Ketersediaan slot penerbangan menjadi faktor lain yang harus diperhitungkan karena banyak penerbangan dari berbagai daerah mengalami penyesuaian pada waktu bersamaan. Pemulihan jadwal karena itu tidak selalu dapat berlangsung seketika setelah suatu bandara dinyatakan dapat beroperasi kembali.
Gangguan tersebut bermula setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi memengaruhi kawasan penerbangan pada Minggu dini hari. Pemeriksaan di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 00.35 hingga 01.05 WIB menunjukkan indikasi positif keberadaan abu vulkanik. Kondisi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penghentian sementara operasional bandara mulai pukul 01.30 WIB. Langkah tersebut diambil untuk memastikan keselamatan penerbangan karena material vulkanik dapat menimbulkan risiko serius terhadap pesawat. Berdasarkan pemantauan hingga Sabtu malam, puluhan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta telah mengalami pembatalan, penundaan, penjadwalan ulang, maupun pengalihan. Dampak tersebut kemudian merambat ke sejumlah bandara lain yang mempunyai hubungan penerbangan langsung dengan Jakarta.
Pemantauan atmosfer pada Minggu juga menunjukkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar dalam dua kelompok pada ketinggian berbeda. Material pada ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Sementara itu, sebaran pada ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang berpotensi berada pada jalur sebaran tersebut meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, dan Samudra Hindia. Perbedaan arah sebaran terjadi karena kondisi angin pada setiap lapisan atmosfer tidak sama. Perubahan arah dan kecepatan angin membuat kondisi ruang udara harus terus diperbarui sebelum penerbangan dapat dilaksanakan.
Abu vulkanik mendapatkan perhatian khusus dalam dunia penerbangan karena partikel halusnya dapat mengganggu mesin pesawat dan berbagai sistem penting lainnya. Material yang masuk ke mesin jet pada temperatur tinggi dapat menimbulkan gangguan yang berpotensi mengurangi kinerja mesin. Abu juga dapat memengaruhi visibilitas, permukaan pesawat, sensor, serta komponen lain yang dibutuhkan untuk menjalankan penerbangan secara aman. Karena alasan tersebut, penerbangan dapat dibatalkan meskipun kondisi cuaca di bandara keberangkatan terlihat relatif normal. Operator harus mempertimbangkan seluruh jalur yang akan dilewati pesawat dan kondisi bandara tujuan. Langkah penundaan maupun pembatalan menjadi bagian dari prosedur keselamatan ketika risiko abu vulkanik dinilai masih perlu dihindari.
Pengelola Bandara Fatmawati Soekarno meminta calon penumpang terus memantau informasi terbaru mengenai penerbangan masing-masing. Informasi perubahan jadwal dapat diperoleh melalui pemberitahuan maskapai, pesan singkat yang dikirimkan ke nomor penumpang yang terdaftar, maupun kanal komunikasi resmi lainnya. Penumpang yang belum menuju bandara disarankan memastikan kembali status penerbangan sebelum melakukan perjalanan. Langkah tersebut diperlukan karena jadwal dapat mengalami perubahan dalam waktu relatif cepat mengikuti perkembangan operasional. Penumpang yang telah berada di bandara juga diminta berkoordinasi dengan maskapai untuk mengetahui mekanisme penjadwalan ulang atau penanganan lainnya. Pengelola bandara terus melakukan pembaruan informasi agar dampak ketidakpastian jadwal terhadap pengguna jasa dapat dikurangi.
Pemulihan penerbangan dari dan menuju Bengkulu akan dilakukan secara bertahap setelah kondisi jalur penerbangan dan bandara penghubung memungkinkan. Maskapai perlu menyesuaikan kembali posisi pesawat yang sebelumnya tertahan atau tidak dapat melakukan penerbangan sesuai jadwal. Selain armada, pengaturan awak pesawat dan slot keberangkatan juga harus diselaraskan dengan jadwal baru. Kondisi tersebut membuat sejumlah penerbangan berpotensi tetap mengalami keterlambatan meskipun pembatasan operasional mulai dilonggarkan. Koordinasi antara pengelola bandara, maskapai, layanan navigasi penerbangan, otoritas penerbangan, dan pemantau kondisi atmosfer terus dilakukan. Setiap keputusan operasional akan menyesuaikan perkembangan terbaru dengan menempatkan keselamatan penumpang dan awak pesawat sebagai prioritas.
Bandara Fatmawati Soekarno akan terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau serta dampaknya terhadap jaringan penerbangan Bengkulu. Jumlah 14 penerbangan yang terdampak masih dapat berubah apabila kondisi ruang udara mengalami perkembangan baru atau maskapai melakukan penyesuaian tambahan. Masyarakat yang memiliki rencana perjalanan udara pada Minggu diminta tidak hanya berpatokan pada jadwal awal yang tertera pada tiket. Konfirmasi terbaru dari maskapai menjadi penting sebelum penumpang berangkat menuju bandara. Pengelola bandara berharap kondisi segera membaik sehingga rotasi pesawat dari Jakarta maupun penerbangan regional dapat kembali berlangsung secara bertahap. Normalisasi penuh akan dilakukan setelah seluruh aspek keselamatan penerbangan dinyatakan memenuhi persyaratan dan jalur penerbangan dapat kembali digunakan dengan aman.





