Jakarta, 6 September 2026 – Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah menilai Lomba Kreasi Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) Tingkat Nasional MPR RI Tahun 2026 menjadi salah satu wadah strategis untuk membentuk karakter generasi muda. Kegiatan tersebut tidak hanya menguji kemampuan peserta dalam baris-berbaris dan pengibaran bendera, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar MPR RI juga diharapkan dapat dipahami melalui pengalaman langsung selama mengikuti kompetisi. Siti menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri penutupan dan pengumuman pemenang LKBB-PB tingkat nasional di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan pelajar dari berbagai daerah dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.
Penyelenggaraan LKBB-PB tingkat nasional tahun ini diikuti perwakilan sekolah dari 30 provinsi di Indonesia. Para peserta merupakan tim terbaik yang sebelumnya melewati kompetisi dan menjadi pemenang di tingkat provinsi masing-masing. Cakupan tersebut meningkat signifikan dibandingkan penyelenggaraan awal pada 2025 yang baru dilaksanakan di tujuh provinsi. Perkembangan jumlah peserta dinilai menunjukkan tingginya antusiasme sekolah dan pelajar terhadap kegiatan tersebut. MPR RI melihat respons itu sebagai modal untuk memperluas penyelenggaraan pada tahun mendatang. Target berikutnya adalah menghadirkan perwakilan dari seluruh 38 provinsi sehingga kompetisi memiliki keterwakilan nasional yang semakin lengkap.
Siti menekankan bahwa kedatangan para pelajar ke Jakarta seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kesempatan mengejar gelar juara. Pengalaman bertemu peserta dari 29 provinsi lainnya mempunyai nilai pendidikan yang tidak kalah penting dibandingkan hasil kompetisi. Para siswa dapat mengenal teman baru dengan latar belakang budaya, kebiasaan, dan karakter daerah yang berbeda. Interaksi tersebut diharapkan menumbuhkan sikap saling menghormati sekaligus memperkuat persaudaraan lintas daerah. Jejaring pertemanan yang terbentuk juga dapat menjadi modal sosial bagi peserta ketika memasuki pendidikan tinggi maupun dunia profesional pada masa mendatang. MPR berharap hubungan antarpeserta tetap terpelihara setelah perlombaan berakhir.
LKBB-PB juga dirancang sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan dan menanamkan Empat Pilar MPR RI kepada generasi muda. Empat Pilar tersebut meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika. Pemahaman terhadap nilai kebangsaan dinilai tidak cukup apabila hanya diberikan melalui teori atau materi di dalam ruang kelas. Kegiatan yang melibatkan fisik, kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkannya secara langsung. Baris-berbaris membutuhkan kekompakan dan kemampuan setiap anggota menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi. Pengibaran bendera juga mempunyai nilai simbolik yang erat dengan penghormatan terhadap negara dan identitas kebangsaan.
Aspek kedisiplinan menjadi salah satu nilai yang paling menonjol dalam kompetisi tersebut. Setiap peserta harus mengikuti instruksi, menjaga ketepatan gerakan, mengatur waktu, dan bekerja secara serempak dengan anggota regu lainnya. Kesalahan satu orang dapat memengaruhi penampilan seluruh kelompok sehingga rasa tanggung jawab individu ikut terbentuk. Proses latihan sebelum perlombaan juga membutuhkan konsistensi dan ketahanan mental dalam jangka waktu panjang. Menurut Siti, pengalaman semacam itu dapat menjadi bekal bagi siswa ketika menghadapi berbagai tantangan pada masa depan. Disiplin yang dibangun melalui kegiatan positif diharapkan tidak berhenti setelah perlombaan, tetapi diterapkan dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Kreativitas tetap mendapat ruang besar meskipun kompetisi berangkat dari kegiatan baris-berbaris yang mempunyai aturan dan ketepatan tinggi. Peserta dituntut mengembangkan formasi, kekompakan, serta penampilan yang menunjukkan identitas tim masing-masing. Kombinasi antara disiplin dan kreativitas dinilai penting bagi pembentukan generasi muda yang mampu bekerja mengikuti aturan sekaligus mempunyai keberanian menghasilkan gagasan baru. Kemampuan tersebut semakin dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat. MPR ingin kegiatan kebangsaan tetap relevan dengan karakter generasi muda tanpa kehilangan nilai dasarnya. Pendekatan kompetitif dan kreatif menjadi salah satu cara agar pesan kebangsaan dapat diterima secara lebih menarik.
Siti juga memberikan perhatian terhadap pola penyelenggaraan kompetisi yang dinilai sangat padat. Pelaksanaan tingkat nasional tahun ini berlangsung dengan rangkaian kegiatan yang cukup panjang dalam waktu terbatas sehingga membutuhkan stamina tinggi dari peserta maupun panitia. Evaluasi akan dilakukan agar penyelenggaraan berikutnya memberikan waktu lebih memadai bagi setiap tim untuk tampil secara maksimal. Salah satu kemungkinan yang dipertimbangkan adalah memperpanjang durasi perlombaan menjadi dua hari. Perubahan tersebut diharapkan membuat rangkaian acara tidak terlalu maraton sekaligus memberikan pengalaman lebih nyaman bagi peserta. Evaluasi teknis menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kompetisi apabila jumlah provinsi peserta bertambah pada 2027.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani juga telah menyampaikan komitmen untuk melanjutkan LKBB-PB pada tahun mendatang dengan cakupan lebih luas. Dukungan fasilitas dan bentuk apresiasi terhadap peserta menjadi bagian yang akan dievaluasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan. MPR ingin kompetisi berkembang bukan sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi bagian dari pembinaan generasi muda yang berkelanjutan. Perluasan hingga seluruh provinsi akan memberikan kesempatan kepada semakin banyak sekolah untuk terlibat. Sistem seleksi juga dapat terus dikembangkan agar kompetisi di daerah berlangsung lebih terbuka dan berjenjang. Dengan pola tersebut, LKBB-PB diharapkan mampu menjangkau pelajar tidak hanya di ibu kota provinsi, tetapi juga kabupaten dan kota yang jauh dari pusat pemerintahan daerah.
Pada penyelenggaraan tingkat nasional tahun 2026, persaingan berlangsung antara sekolah-sekolah yang sebelumnya menjadi terbaik di daerah masing-masing. SMK Negeri 2 Garut, Jawa Barat, berhasil keluar sebagai juara pertama tingkat nasional. Sementara kategori juara harapan pertama diraih SMA Negeri 1 Gianyar dari Bali, disusul SMA Negeri 99 Jakarta sebagai juara harapan kedua dan SMA Negeri 3 Langsa dari Aceh sebagai juara harapan ketiga. Hasil tersebut memperlihatkan kompetisi mampu mempertemukan sekolah dari berbagai kawasan Indonesia dalam satu arena. Namun, penyelenggara menekankan nilai utama kegiatan tidak hanya terletak pada posisi akhir masing-masing peserta. Proses latihan, pengalaman bertanding, kedisiplinan, serta interaksi antarpelajar menjadi bagian penting dari tujuan kompetisi.
Siti berharap LKBB-PB dapat terus berkembang menjadi ruang pembinaan yang mempertemukan pendidikan karakter, kreativitas, dan wawasan kebangsaan. Target menghadirkan seluruh 38 provinsi pada 2027 menjadi salah satu langkah untuk memperluas manfaat kegiatan tersebut. Para peserta diharapkan membawa pengalaman selama mengikuti kompetisi kembali ke sekolah dan lingkungan masing-masing sehingga nilai disiplin, kerja sama, toleransi, serta persatuan dapat diteruskan kepada pelajar lainnya. MPR juga akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tahun ini sebagai dasar penyempurnaan kegiatan berikutnya. Dengan keterlibatan sekolah dari semakin banyak daerah, LKBB-PB diharapkan menjadi salah satu sarana memperkuat hubungan antargenerasi muda Indonesia. Pembentukan karakter melalui pengalaman nyata dinilai penting untuk mempersiapkan pelajar menjadi generasi penerus yang berintegritas, kreatif, dan memiliki semangat kebangsaan.





