Bekasi, 4 September 2026 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi menyerukan penguatan pendidikan karakter dan ketahanan keluarga sebagai pendekatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di kalangan generasi muda, termasuk fenomena LGBT. Ketua MUI Kabupaten Bekasi KH Prof Mahmud menilai persoalan tersebut tidak cukup ditangani melalui kecaman, konflik sosial, maupun pemberian stigma terhadap individu. Menurutnya, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat perlu mengambil peran secara bersama-sama dengan mengedepankan dialog, pendampingan, pendidikan moral, serta lingkungan sosial yang sehat. Orang tua dinilai memiliki posisi paling awal dalam membangun karakter anak karena keluarga merupakan ruang pertama tempat mereka mendapatkan perhatian, kasih sayang, keteladanan, dan nilai kehidupan. Pendidikan karakter kemudian perlu diperkuat melalui sekolah agar perkembangan akademik berjalan beriringan dengan pembentukan tanggung jawab dan etika. Pendekatan tersebut diharapkan membuat generasi muda memiliki fondasi yang kuat ketika menghadapi perubahan sosial dan derasnya arus informasi digital.
MUI Kabupaten Bekasi menempatkan ketahanan keluarga sebagai salah satu unsur terpenting dalam pendekatan tersebut. Orang tua diharapkan tidak hanya hadir secara fisik dalam kehidupan anak, tetapi juga memberikan perhatian secara emosional dan menyediakan ruang komunikasi yang terbuka. Kedekatan semacam itu dinilai semakin diperlukan ketika anak dan remaja memperoleh informasi dalam jumlah sangat besar melalui internet dan media sosial. Tanpa komunikasi yang memadai di rumah, berbagai persoalan yang dialami anak dapat terlambat diketahui karena mereka memilih mencari jawaban dari lingkungan lain. Orang tua karena itu didorong membangun kebiasaan berdialog tanpa langsung memberikan penghakiman ketika anak menyampaikan pertanyaan maupun persoalan pribadi. Hubungan keluarga yang hangat dinilai dapat membuat anak lebih terbuka sehingga pendampingan dapat dilakukan sejak awal ketika muncul masalah.
Sekolah juga memiliki tanggung jawab penting karena sebagian besar aktivitas generasi muda berlangsung di lingkungan pendidikan. MUI menilai sekolah tidak seharusnya hanya mengejar pencapaian akademik, tetapi perlu memberikan perhatian terhadap pembentukan kepribadian peserta didik. Pendidikan karakter dapat diarahkan pada pengembangan rasa tanggung jawab, kemampuan mengendalikan diri, etika dalam berinteraksi, penghormatan terhadap orang lain, serta pemahaman nilai agama dan budaya. Guru memiliki posisi penting sebagai pendidik sekaligus figur yang dapat memberikan keteladanan melalui perilaku sehari-hari. Pendekatan tersebut tidak berarti sekolah mengambil alih tanggung jawab keluarga, tetapi melengkapi pendidikan yang telah diberikan orang tua di rumah. Kerja sama antara guru dan keluarga akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih konsisten dalam mendampingi perkembangan anak.
MUI juga menekankan pendekatan keagamaan sebaiknya dilakukan secara ramah, mendidik, dan tidak menghasilkan konflik baru di tengah masyarakat. Dakwah dipandang memiliki fungsi membimbing dan memberikan pemahaman sehingga penyampaiannya perlu mempertimbangkan kondisi orang yang menerima pesan. Pendekatan yang hanya berisi kemarahan atau penghakiman dinilai berpotensi membuat komunikasi terputus dan mengurangi kesempatan melakukan pendampingan. Karena itu, tokoh agama didorong menyampaikan nilai keagamaan dengan cara yang menyejukkan sekaligus tetap memberikan penjelasan mengenai pandangan agama yang dianut masyarakat. Pendekatan semacam ini juga penting ketika berhadapan dengan generasi muda yang memiliki akses luas terhadap berbagai perspektif melalui ruang digital. Dialog memungkinkan pertanyaan dijawab secara terbuka tanpa menghilangkan penghormatan terhadap martabat setiap orang.
Penguatan pendidikan karakter juga perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi karena kehidupan anak dan remaja saat ini tidak dapat dipisahkan dari internet. Media sosial dapat memberikan manfaat untuk pendidikan dan komunikasi, tetapi juga mempertemukan pengguna dengan berbagai informasi dan pandangan yang belum tentu mereka pahami secara utuh. Orang tua dan guru karena itu membutuhkan kemampuan literasi digital agar dapat memberikan pendampingan yang relevan tanpa sekadar melarang penggunaan teknologi. Anak perlu dibiasakan memeriksa informasi, memahami konteks, serta berdiskusi ketika menemukan materi yang menimbulkan pertanyaan. Pengawasan digital yang hanya mengandalkan pembatasan dapat memiliki efektivitas terbatas apabila tidak disertai hubungan komunikasi yang baik. Literasi dan pendampingan menjadi bagian penting agar generasi muda mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab ketika berada di ruang digital.
Selain komunikasi di dalam keluarga, MUI Kabupaten Bekasi mendorong orang tua memperbanyak aktivitas bersama anak yang tidak selalu bergantung pada perangkat elektronik. Kegiatan olahraga, seni, organisasi, aktivitas sosial, maupun kegiatan keagamaan dapat memberikan ruang bagi generasi muda untuk membangun hubungan dengan lingkungan secara positif. Aktivitas semacam itu juga membantu anak mengembangkan keterampilan komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, serta kepercayaan diri. Kehadiran figur teladan yang dekat dengan kehidupan anak dinilai penting karena pembentukan karakter tidak hanya berlangsung melalui nasihat. Anak juga belajar melalui perilaku yang mereka lihat secara langsung dari orang tua, guru, maupun orang dewasa lainnya. Konsistensi antara nilai yang diajarkan dengan perilaku sehari-hari menjadi faktor penting agar pendidikan karakter dapat diterima secara lebih alami.
Masyarakat juga memiliki peranan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi perkembangan generasi muda. Kabupaten Bekasi dinilai memiliki modal sosial berupa budaya gotong royong, kedekatan keluarga, serta kehidupan komunal yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembinaan anak dan remaja. Organisasi masyarakat, lembaga keagamaan, komunitas pemuda, dan berbagai unsur lokal dapat menyediakan kegiatan positif yang memberikan ruang bagi generasi muda mengembangkan kemampuan mereka. Lingkungan sosial yang sehat dapat menjadi pelengkap pendidikan yang berlangsung di rumah dan sekolah. Namun kepedulian masyarakat perlu dilakukan tanpa perundungan, kekerasan, atau tindakan main hakim sendiri terhadap individu yang dianggap berbeda. Persoalan sosial tetap perlu ditangani dengan menghormati hukum serta martabat manusia.
Pendampingan psikologis juga dapat menjadi bagian penting ketika anak atau keluarga menghadapi persoalan yang sulit diselesaikan sendiri. Konselor sekolah maupun tenaga profesional dapat membantu membuka ruang komunikasi dan menangani tekanan emosional yang dialami generasi muda tanpa stigma. Bantuan profesional menjadi semakin penting apabila seseorang mengalami kecemasan, depresi, perundungan, konflik keluarga, atau persoalan kesehatan mental lainnya. Pendidikan karakter tidak seharusnya menggantikan layanan kesehatan mental ketika bantuan tersebut memang dibutuhkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan bersama untuk memastikan perkembangan anak mendapat perhatian secara menyeluruh. Keluarga dan sekolah perlu membangun suasana yang membuat generasi muda tidak takut meminta bantuan ketika mengalami persoalan.
MUI Kabupaten Bekasi juga mengingatkan bahwa membangun generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan. Pemerintah daerah dapat mendukung melalui kebijakan pendidikan, program pembinaan keluarga, kegiatan kepemudaan, serta penguatan layanan konseling. Sekolah dapat memperkuat pendidikan karakter melalui proses pembelajaran dan kegiatan di luar kelas, sedangkan keluarga menjadi tempat utama pembentukan nilai dan hubungan emosional. Tokoh agama dan masyarakat memiliki ruang untuk memberikan pendampingan menggunakan pendekatan yang tidak memicu permusuhan. Kolaborasi tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan menyerahkan persoalan sepenuhnya kepada satu institusi. Setiap unsur memiliki fungsi berbeda yang apabila berjalan bersama dapat membentuk lingkungan lebih mendukung bagi tumbuh kembang generasi muda.
Seruan MUI Kabupaten Bekasi pada akhirnya menempatkan pendidikan karakter, ketahanan keluarga, dan kepedulian masyarakat sebagai tiga pilar dalam menghadapi berbagai tantangan sosial generasi muda. Pendekatan tersebut menekankan pentingnya rumah yang menyediakan kasih sayang dan dialog, sekolah yang membangun kemampuan akademik sekaligus karakter, serta masyarakat yang menciptakan lingkungan sosial sehat. Dalam membahas fenomena LGBT, MUI mendorong penyampaian pandangan agama melalui pendidikan dan dakwah yang membimbing daripada pendekatan yang hanya menghasilkan penghakiman. Orang tua juga didorong meningkatkan kedekatan dengan anak sehingga berbagai persoalan dapat dibicarakan secara terbuka sejak awal. Pendampingan yang konsisten dinilai memberikan ruang lebih besar bagi generasi muda untuk memahami nilai yang dianut keluarga dan masyarakat sekaligus menghadapi berbagai pengaruh secara kritis. Dengan kolaborasi keluarga, sekolah, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat, pembentukan karakter generasi muda diharapkan dapat berlangsung secara lebih kuat tanpa mengabaikan penghormatan terhadap martabat setiap individu.





