Jakarta, 28 Juli 2026 – Presiden Prabowo Subianto mengingatkan para pamong praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri atau IPDN untuk menjaga sikap rendah hati sekaligus memiliki kemampuan bergaul dengan masyarakat ketika menjalankan tugas pemerintahan. Pesan tersebut menekankan bahwa aparatur tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif dan memahami aturan, tetapi juga harus mampu membangun hubungan yang baik dengan warga dari beragam latar belakang. Kemampuan berkomunikasi dinilai penting karena pamong praja akan berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat di berbagai daerah. Sikap yang terbuka dan tidak menjaga jarak diharapkan membantu aparatur memahami kebutuhan warga secara lebih nyata. Prabowo menempatkan karakter dan kemampuan berinteraksi sebagai bagian penting dari kualitas seorang pelayan publik.
Pesan untuk tetap rendah hati memiliki arti penting karena lulusan IPDN dipersiapkan menjadi bagian dari birokrasi pemerintahan dan berpotensi menduduki berbagai posisi strategis sepanjang perjalanan kariernya. Jabatan dalam pemerintahan membawa kewenangan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tanggung jawab untuk memastikan pelayanan diberikan secara adil kepada masyarakat. Aparatur yang terlalu menempatkan jabatan sebagai simbol kekuasaan berisiko menciptakan jarak dengan warga yang seharusnya dilayani. Sebaliknya, pendekatan yang lebih terbuka dapat membuat masyarakat lebih mudah menyampaikan persoalan maupun kebutuhan yang mereka hadapi. Karena itu, kerendahan hati menjadi bagian dari etika pelayanan yang perlu dipertahankan sejak awal memasuki birokrasi.
Kemampuan bergaul yang disampaikan Prabowo juga tidak hanya berkaitan dengan keramahan dalam komunikasi sehari-hari. Pamong praja perlu memahami karakter masyarakat, budaya lokal, pola komunikasi, serta dinamika sosial di wilayah tempat mereka bertugas. Indonesia memiliki kondisi yang sangat beragam sehingga pendekatan yang efektif di satu daerah belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama di daerah lainnya. Aparatur membutuhkan kemampuan mendengar dan menyesuaikan cara berkomunikasi tanpa meninggalkan aturan serta prinsip profesionalitas. Kedekatan dengan masyarakat dapat membantu pemerintah memperoleh gambaran lebih cepat mengenai persoalan yang berkembang di lapangan.
Bagi lulusan IPDN, tantangan pelayanan publik terus berubah seiring meningkatnya harapan masyarakat terhadap pemerintah. Warga semakin mudah menyampaikan keluhan dan menilai kualitas pelayanan melalui berbagai kanal digital, sehingga respons aparatur dapat menjadi perhatian dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menuntut kemampuan komunikasi yang tidak defensif ketika menerima kritik maupun masukan. Aparatur harus mampu menjelaskan kebijakan dengan bahasa yang mudah dipahami sekaligus memberikan kepastian mengenai proses pelayanan yang sedang dijalankan. Profesionalitas pada akhirnya bukan hanya terlihat dari kemampuan menyelesaikan administrasi, tetapi juga dari cara memperlakukan masyarakat selama proses tersebut berlangsung.
Pesan Presiden juga relevan dengan peranan pamong praja sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan pelaksanaan di daerah. Program yang dirancang di tingkat pusat maupun daerah membutuhkan aparatur yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi pelayanan konkret. Dalam proses tersebut, kondisi lapangan tidak selalu sama dengan asumsi yang muncul ketika kebijakan disusun. Komunikasi dengan masyarakat dapat membantu aparatur mengenali hambatan dan memberikan masukan kepada pengambil kebijakan untuk melakukan penyesuaian. Kemampuan bergaul dengan demikian dapat berfungsi sebagai bagian dari upaya memahami realitas sosial, bukan sekadar kemampuan membangun relasi pribadi.
Kerendahan hati juga berkaitan erat dengan integritas ketika seseorang memperoleh kewenangan dalam birokrasi. Aparatur pemerintah menghadapi berbagai keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat, penggunaan anggaran, pelayanan administratif, maupun pelaksanaan program pembangunan. Posisi tersebut membutuhkan kesadaran bahwa kewenangan harus digunakan untuk menjalankan tugas, bukan memperoleh perlakuan istimewa. Budaya birokrasi yang berorientasi pada pelayanan dapat tumbuh apabila pejabat dan aparatur memandang masyarakat sebagai pihak yang harus mendapatkan hak pelayanan secara layak. Pembentukan karakter selama pendidikan menjadi penting untuk mempersiapkan calon aparatur menghadapi situasi tersebut.
IPDN memiliki posisi strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang nantinya ditempatkan dalam struktur pemerintahan di berbagai wilayah Indonesia. Pendidikan kedinasan karena itu tidak hanya membutuhkan penguasaan mengenai pemerintahan, administrasi, kepemimpinan, dan kebijakan publik. Kemampuan menyelesaikan konflik, berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami kondisi masyarakat juga menjadi bekal yang semakin penting. Pengalaman berinteraksi dengan berbagai kelompok dapat membantu calon pamong praja membangun perspektif yang lebih luas sebelum memasuki dunia kerja. Ketika kemampuan teknis berjalan bersama kecakapan sosial, aparatur memiliki modal lebih kuat untuk menjalankan pelayanan secara efektif.
Pesan Prabowo kepada pamong praja IPDN untuk tetap rendah hati dan pandai bergaul pada akhirnya menegaskan bahwa kualitas aparatur pemerintah tidak hanya diukur dari jabatan maupun kemampuan administratif. Hubungan dengan masyarakat menjadi bagian utama dari pekerjaan karena berbagai kebijakan pemerintah pada akhirnya harus memberikan manfaat kepada warga. Aparatur yang mampu mendengar, memahami kondisi lokal, dan berkomunikasi secara baik dapat membantu memperkecil jarak antara birokrasi dan masyarakat. Tantangan bagi para pamong praja adalah mempertahankan nilai tersebut ketika mulai memperoleh tanggung jawab dan kewenangan yang semakin besar dalam perjalanan karier. Sikap rendah hati, integritas, profesionalitas, dan kemampuan membangun hubungan sosial diharapkan menjadi fondasi bagi pelayanan publik yang lebih responsif serta dipercaya masyarakat.




