Jakarta, 11 Mei 2026 – Euforia menyambut 2026 FIFA World Cup mulai terasa di berbagai negara tuan rumah, termasuk Meksiko. Namun di balik semarak persiapan turnamen sepak bola terbesar di dunia itu, muncul gelombang protes dari para orang tua murid di Meksiko terkait rencana pemerintah memajukan libur sekolah lebih awal dari jadwal normal.
Pemerintah Meksiko sebelumnya mengusulkan agar tahun ajaran berakhir pada 5 Juni 2026, lebih cepat sekitar 40 hari dibanding jadwal semula yang berakhir pertengahan Juli. Kebijakan itu disebut berkaitan dengan persiapan Piala Dunia 2026 serta gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah negara tersebut.
Menteri Pendidikan Meksiko, Mario Delgado, menyebut perubahan kalender akademik dilakukan untuk membantu mengurangi kepadatan lalu lintas dan tekanan logistik selama turnamen berlangsung. Selain itu, pemerintah juga berdalih suhu tinggi di beberapa negara bagian dapat mengganggu aktivitas belajar mengajar.
Namun rencana tersebut justru menuai kritik keras dari banyak orang tua dan kelompok pendidikan. Mereka menilai pemerintah terlalu mengutamakan kepentingan ajang olahraga dibanding pendidikan anak-anak. Sejumlah asosiasi orang tua murid menyatakan pemangkasan hari sekolah demi Piala Dunia merupakan langkah yang tidak tepat dan berpotensi mengorbankan kualitas pembelajaran siswa.
Kritik juga datang karena pertandingan Piala Dunia di Meksiko hanya digelar di tiga kota, yakni Mexico City, Monterrey, dan Guadalajara. Banyak warga mempertanyakan mengapa dampak kebijakan harus dirasakan secara nasional, termasuk di wilayah yang tidak menjadi tuan rumah pertandingan.
Selain persoalan akademik, orang tua juga khawatir terhadap dampak sosial dan ekonomi dari libur panjang mendadak tersebut. Banyak keluarga pekerja mengaku kesulitan mengatur pengawasan anak apabila sekolah diliburkan lebih awal. Mereka harus mencari penitipan tambahan atau meninggalkan anak di rumah tanpa pendampingan optimal selama bekerja.
Di sisi lain, sebagian kalangan melihat Piala Dunia 2026 memang akan membawa lonjakan wisatawan dan aktivitas ekonomi besar ke Meksiko. Pemerintah diperkirakan ingin memastikan kelancaran mobilitas publik selama turnamen berlangsung. Namun para pengamat pendidikan menilai solusi itu tidak seharusnya mengorbankan kalender akademik nasional.
Presiden Claudia Sheinbaum akhirnya memberi sinyal bahwa usulan tersebut belum bersifat final. Ia mengatakan pemerintah masih mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan penyelenggaraan Piala Dunia dan hak pendidikan anak-anak.
Kontroversi ini menjadi gambaran bahwa dampak penyelenggaraan ajang olahraga global tidak hanya berkaitan dengan stadion, wisata, dan ekonomi, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Di tengah antusiasme menyambut Piala Dunia 2026, pemerintah Meksiko kini menghadapi tantangan besar untuk mencari jalan tengah antara kepentingan nasional, kebutuhan logistik turnamen, dan hak pendidikan jutaan pelajar.







