Teheran, 25 Agustus 2026 – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan sudah waktunya perang dengan Amerika Serikat diakhiri ketika Teheran merasa berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan dan tekanan terhadap Iran yang semakin besar, baik dari sisi militer maupun ekonomi. Pezeshkian menilai Iran memiliki alasan untuk mendorong berakhirnya perang tanpa harus melakukannya dalam kondisi terdesak. Ia juga berupaya menunjukkan bahwa keputusan mengakhiri konflik bukan berarti Iran menyerah kepada tekanan Amerika Serikat. Sebaliknya, Teheran ingin memasuki proses perdamaian dengan posisi tawar yang dinilai masih cukup kuat.
Pezeshkian menyampaikan pandangan tersebut dalam sebuah pertemuan dengan kalangan medis di Iran. Ia mengatakan lebih baik konflik diakhiri ketika Iran berada dalam posisi yang menurutnya kuat dan bermartabat. Pernyataan itu sekaligus menunjukkan adanya dorongan dari pemerintahan Iran untuk kembali mengedepankan jalur diplomasi setelah konflik militer berlangsung cukup lama. Teheran ingin memastikan setiap penyelesaian yang dicapai tidak dipandang sebagai bentuk kekalahan. Karena itu, posisi Iran dalam setiap pembicaraan menjadi perhatian penting bagi pemerintah negara tersebut.
Menurut Pezeshkian, Iran menilai dirinya telah mampu bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat. Ia menyebut dunia internasional dapat melihat dampak serangan terhadap berbagai fasilitas di Iran dan menilai Amerika Serikat telah melakukan tindakan yang melanggar aturan internasional. Narasi tersebut digunakan pemerintah Iran untuk membangun argumen bahwa Teheran memiliki legitimasi moral dan politik untuk meminta penghentian perang. Pemerintah Iran juga berupaya mempertahankan dukungan masyarakat dengan menekankan bahwa negaranya mampu bertahan menghadapi tekanan militer dan ekonomi yang diberikan Washington.
Keinginan untuk mengakhiri perang juga tidak terlepas dari dampak ekonomi yang semakin berat dirasakan Iran. Sanksi Amerika Serikat telah memberikan tekanan terhadap perdagangan, sektor energi, nilai mata uang, serta aktivitas ekonomi domestik. Kondisi tersebut dapat meningkatkan beban masyarakat apabila konflik terus berlangsung dalam waktu panjang. Pemerintah Iran harus menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan kemampuan pertahanan sekaligus menjaga perekonomian agar tetap berjalan. Karena itu, penyelesaian diplomatik dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi tekanan ekonomi tanpa harus menerima seluruh tuntutan Washington.
Meski demikian, keinginan Pezeshkian untuk mengakhiri perang tidak berarti Iran siap menerima kesepakatan apa pun. Teheran tetap menginginkan adanya jaminan dan persyaratan yang dianggap dapat melindungi kepentingan nasional Iran. Pemerintah Iran sebelumnya juga menekankan pentingnya penghentian agresi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara. Artinya, pembicaraan damai tetap akan berlangsung dalam kerangka negosiasi yang kompleks. Iran ingin memastikan bahwa penghentian perang tidak membuka peluang bagi serangan baru atau tekanan tambahan setelah kesepakatan tercapai.
Salah satu persoalan penting dalam konflik tersebut adalah Selat Hormuz. Jalur perairan strategis itu menjadi bagian penting dalam perdagangan energi global dan memiliki posisi sentral dalam konflik Iran-Amerika Serikat. Gangguan terhadap lalu lintas kapal melalui kawasan tersebut telah memberikan dampak terhadap perdagangan minyak dan pelayaran internasional. Iran memiliki kemampuan untuk memberikan tekanan terhadap aktivitas di kawasan tersebut, sementara Amerika Serikat berusaha mempertahankan jalur pelayaran dan meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Persoalan Selat Hormuz kemudian menjadi salah satu isu yang tidak mudah dipisahkan dari pembicaraan mengenai penghentian perang.
Selain persoalan militer dan ekonomi, konflik juga telah menghasilkan tekanan politik di dalam Iran. Sebagian pejabat Iran mendorong perlawanan berkelanjutan terhadap Amerika Serikat, sementara kelompok lain melihat diplomasi sebagai jalan untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan perang. Perbedaan pendekatan tersebut menjadi tantangan bagi Pezeshkian dalam menentukan kebijakan pemerintah. Ia harus menjaga agar keputusan untuk membuka kembali pembicaraan tidak dianggap sebagai bentuk kelemahan. Pada saat yang sama, pemerintah perlu mempertimbangkan dampak perang terhadap kehidupan masyarakat Iran.
Amerika Serikat sendiri masih mempertahankan tekanan terhadap Iran melalui berbagai kebijakan ekonomi. Washington menilai tekanan tersebut diperlukan untuk memaksa Teheran menerima persyaratan yang lebih sesuai dengan kepentingan Amerika Serikat. Pemerintah AS juga menginginkan penyelesaian terhadap sejumlah persoalan yang berkaitan dengan program nuklir Iran, kemampuan rudal, serta aktivitas regional Teheran. Perbedaan tuntutan tersebut membuat jalan menuju kesepakatan permanen masih cukup panjang. Pernyataan Pezeshkian mengenai posisi kuat Iran menjadi bagian dari upaya Teheran menunjukkan bahwa negosiasi tidak akan dilakukan dari posisi yang sepenuhnya terdesak.
Upaya diplomasi juga mulai mendapatkan ruang melalui keterlibatan negara-negara yang berusaha menjadi mediator. Pakistan menjadi salah satu negara yang aktif melakukan komunikasi dengan pihak Iran dan Amerika Serikat. Pembicaraan tersebut diarahkan untuk mencari jalan keluar dari konflik sekaligus mengurangi risiko eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Dalam perkembangan terbaru, komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat disebut menghasilkan kemajuan dalam pembahasan mengenai penghentian konflik dan persoalan Selat Hormuz. Namun, masih diperlukan negosiasi lebih lanjut sebelum kesepakatan yang benar-benar mengakhiri perang dapat tercapai.
Bagi Iran, mengakhiri perang dari posisi yang dianggap kuat memiliki arti strategis. Teheran ingin menunjukkan bahwa keputusan menghentikan konflik merupakan hasil dari kemampuan bertahan dan mempertahankan kepentingan nasional, bukan akibat menyerah terhadap tekanan. Narasi tersebut penting bagi pemerintah Iran untuk menjaga legitimasi politik di dalam negeri sekaligus mempertahankan posisi tawar dalam perundingan internasional. Pezeshkian juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa diplomasi dapat menjadi instrumen untuk mengakhiri konflik tanpa mengorbankan martabat negara.
Namun, perjalanan menuju perdamaian masih menghadapi sejumlah hambatan. Amerika Serikat dan Iran memiliki perbedaan besar mengenai syarat penghentian konflik, sementara persoalan sanksi, nuklir, keamanan kawasan, dan Selat Hormuz masih menjadi isu sensitif. Kedua negara juga harus membangun kembali kepercayaan setelah berbulan-bulan terlibat dalam konflik terbuka. Kesepakatan yang hanya menghentikan pertempuran sementara belum tentu menyelesaikan persoalan mendasar yang menjadi penyebab ketegangan. Karena itu, proses diplomasi kemungkinan membutuhkan pembahasan panjang dan jaminan yang dapat diterima oleh kedua pihak.
Pernyataan Pezeshkian menunjukkan bahwa Iran mulai menempatkan kemungkinan penghentian perang sebagai salah satu pilihan strategis. Teheran ingin mengakhiri konflik ketika merasa memiliki posisi tawar yang cukup kuat, sekaligus memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi. Di tengah tekanan ekonomi, ancaman eskalasi militer, serta gangguan terhadap jalur perdagangan, penghentian perang dapat memberikan ruang bagi Iran untuk memulihkan kondisi dalam negeri. Kini, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan keinginan tersebut menjadi kesepakatan konkret yang dapat diterima Iran dan Amerika Serikat. Jika proses diplomasi berhasil menemukan titik temu, konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan tersebut berpeluang memasuki babak baru menuju penghentian permusuhan dan pemulihan stabilitas kawasan.








