
Tanggal: 5 Juli 2025
Semarang — Dunia game lokal kembali diguncang oleh kabar membanggakan: seorang pelajar SMK dari Semarang berhasil menciptakan game horor berjudul “Lingsir Petang” yang kini resmi dirilis di platform game internasional Steam. Game buatan anak bangsa ini langsung menarik perhatian komunitas gamer global dan viral di media sosial karena atmosfernya yang mencekam, dipadukan dengan nuansa budaya Jawa yang kental.
Dari Tugas Sekolah Jadi Fenomena Digital
Game ini diciptakan oleh Aditya Putra Wibisono (17 tahun), siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak di SMK Negeri 2 Semarang. Awalnya, proyek ini hanyalah tugas akhir mata pelajaran pemrograman multimedia, namun Aditya mengembangkan ide tersebut selama 9 bulan secara mandiri — mulai dari desain karakter, pemrograman, pengambilan suara latar, hingga membuat animasi.
“Saya memang suka game horor seperti Silent Hill dan Fatal Frame, tapi saya ingin membuat versi Indonesia-nya — yang terasa dekat dan menyeramkan secara budaya,” ujar Aditya saat diwawancara.
Dalam game ini, pemain berperan sebagai remaja yang tersesat di desa terpencil saat sore hari, dan harus memecahkan teka-teki sambil menghindari gangguan makhluk-makhluk mistis seperti kuntilanak, genderuwo, dan leak Bali yang muncul secara tak terduga.
Rilis di Steam dan Disambut Positif
“Lingsir Petang” resmi dirilis di Steam pada 3 Juli 2025 dan dalam 48 jam pertama telah diunduh lebih dari 21.000 kali. Game ini memperoleh ulasan sangat positif dari para reviewer game karena atmosfir visualnya yang menghantui, suara ambient asli dari pedesaan Jawa, dan cerita yang padat namun penuh misteri.
Channel YouTube game horor asal Jepang, Kuronoma Plays, bahkan membuat video gameplay berdurasi 40 menit dan menyebut game ini sebagai “Asian gem from Indonesia that rivals indie horror from Korea”.
Game ini juga mendapat sorotan dari media luar negeri seperti IGN Asia dan GamesRadar, yang memuji keberanian game ini dalam mengusung cerita lokal dan pendekatan budaya yang otentik.
Dukungan Pemerintah dan Komunitas Developer
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta BEKRAF memberikan dukungan moril atas pencapaian Aditya. Bahkan, ia dijadwalkan akan tampil dalam konferensi Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2025 untuk mempresentasikan karyanya.
Komunitas developer lokal seperti GameDev.ID dan IndieHub Nusantara juga menyatakan siap membina Aditya agar bisa melanjutkan pengembangan game ini ke versi yang lebih luas (multi-platform), serta membuka peluang kolaborasi dengan studio game profesional.
“Bakat seperti ini harus dirangkul. Bayangkan jika lebih banyak anak muda yang mengangkat mitologi lokal dalam format interaktif — kita bisa punya ‘hororverse’ sendiri seperti Jepang atau Thailand,” ujar Guntur Santosa, ketua komunitas GameDev.ID.
Potensi Ekonomi Kreatif Digital Indonesia
Kesuksesan Lingsir Petang menjadi bukti bahwa sektor ekonomi kreatif digital, khususnya game, menjadi ladang yang menjanjikan bagi generasi muda. Game ini dijual dengan harga Rp28.000 di Steam, dan Aditya telah memperoleh pendapatan lebih dari Rp150 juta hanya dalam dua hari pertama.
Dengan antusiasme yang terus meningkat, Aditya kini berencana merilis DLC bertema urban legend Jakarta dan mengembangkan game berikutnya yang terinspirasi dari kisah rumah sakit tua di Bandung.
Kesimpulan:
“Lingsir Petang” bukan sekadar game horor, tapi wujud kreativitas anak bangsa yang mengangkat kearifan lokal ke panggung dunia. Dari tugas sekolah menjadi produk digital berkelas global, kisah Aditya menjadi inspirasi bahwa teknologi dan budaya bisa bersatu dalam bentuk yang menyeramkan — sekaligus membanggakan.