Jakarta, 11 Mei 2026 – Nadiem Makarim mengungkap alasan dirinya membawa tim sendiri saat memimpin Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan karena saat itu kemampuan internal kementerian dalam pengembangan aplikasi dan sistem digital dinilai masih terbatas.
Nadiem menjelaskan transformasi digital di lingkungan pendidikan membutuhkan kecepatan dan kemampuan teknologi yang memadai. Karena itu, ia merasa perlu menghadirkan tim dengan pengalaman khusus di bidang pengembangan produk digital agar berbagai program dapat berjalan lebih efektif.
Selama masa kepemimpinannya, Kemendikbud memang dikenal aktif melakukan digitalisasi layanan pendidikan, mulai dari platform pembelajaran, sistem administrasi sekolah, hingga berbagai aplikasi pendukung proses belajar mengajar.
Menurut Nadiem, tantangan utama saat itu bukan hanya membangun aplikasi, tetapi juga mengubah budaya kerja birokrasi agar lebih adaptif terhadap teknologi dan kebutuhan masyarakat modern.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai respons publik. Sebagian pihak menilai langkah membawa tenaga profesional dari luar birokrasi dapat mempercepat inovasi dan modernisasi sistem pemerintahan. Namun ada pula yang menyoroti pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia di internal kementerian.
Pengamat kebijakan publik menilai transformasi digital di lembaga pemerintah memang sering menghadapi tantangan karena keterbatasan SDM teknologi dan proses birokrasi yang kompleks. Kolaborasi dengan tenaga profesional disebut menjadi salah satu solusi yang banyak diterapkan di berbagai negara.
Di sisi lain, penguatan kemampuan pegawai internal tetap dianggap penting agar transformasi digital dapat berjalan berkelanjutan dan tidak terlalu bergantung pada pihak eksternal.
Program digitalisasi pendidikan sendiri selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu fokus besar pemerintah, terutama untuk memperluas akses pembelajaran dan meningkatkan efisiensi layanan pendidikan di Indonesia.








