London, 1 Juli 2025 – Sistem pendidikan inklusif di Inggris tengah menghadapi tekanan besar setelah laporan nasional terbaru mengungkap bahwa sejumlah besar Sekolah Luar Biasa (Special Educational Needs Schools/SEN Schools) kini beroperasi jauh melebihi kapasitas. Akibatnya, ribuan anak berkebutuhan khusus terancam tidak mendapat tempat belajar yang layak, memicu keprihatinan luas dari para orang tua, tenaga pendidik, hingga parlemen.

Data yang dirilis oleh Local Government Association (LGA) dan Ofsted (Otoritas Standar Pendidikan Inggris) menyebutkan bahwa lebih dari 80% otoritas lokal melaporkan kekurangan tempat di sekolah luar biasa, terutama untuk anak-anak dengan kebutuhan kompleks seperti autisme, gangguan spektrum sensorik, dan keterbatasan kognitif berat.


📊 Fakta-Fakta Krisis Kapasitas SLB di Inggris

  • Jumlah permintaan tempat di SLB meningkat 39% dalam lima tahun terakhir (2020–2025).

  • Sekitar 3.500 siswa diperkirakan tidak mendapat penempatan tahun ajaran ini.

  • Beberapa sekolah beroperasi pada kapasitas 120–140%, dengan ruang kelas yang terlalu padat dan tenaga pendidik yang kewalahan.

  • Permintaan tertinggi berasal dari wilayah urban seperti Greater London, Birmingham, dan Manchester.


🧠 Peningkatan Diagnosa dan Kesenjangan Dukungan

Kenaikan jumlah siswa yang membutuhkan pendidikan luar biasa sebagian besar didorong oleh:

  • Peningkatan diagnosis gangguan spektrum autisme sejak pandemi COVID-19.

  • Kesadaran orang tua yang lebih tinggi mengenai hak pendidikan khusus.

  • Kurangnya sekolah umum yang mampu menyediakan dukungan inklusif optimal.

Sayangnya, kapasitas infrastruktur dan sumber daya belum mengikuti tren ini. Banyak SLB yang dibangun pada dekade 90-an kini tak mampu menampung lonjakan kebutuhan.


🗣️ Suara Orang Tua: “Anak Saya Menunggu Tanpa Kepastian”

Sarah Mitchell, orang tua dari anak berkebutuhan khusus di Essex, menyatakan kekecewaannya:

“Anak saya telah didiagnosa autisme dan ADHD sejak tahun lalu, tapi hingga kini belum juga mendapat tempat di sekolah yang sesuai. Kami merasa sistem telah gagal.”

Banyak orang tua melaporkan harus menunggu hingga 12 bulan atau lebih untuk mendapat keputusan penempatan, padahal masa perkembangan anak sangat krusial.


🏫 Respon Pemerintah: Janji Investasi dan Evaluasi Sistemik

Departemen Pendidikan Inggris (DfE) mengakui adanya tekanan sistemik dalam sistem pendidikan kebutuhan khusus. Dalam pernyataan resminya, DfE menjanjikan:

  • Investasi £2.6 miliar hingga 2027 untuk pembangunan dan ekspansi SLB.

  • Penambahan lebih dari 60 sekolah luar biasa baru di seluruh wilayah Inggris.

  • Reformasi proses Education, Health and Care Plans (EHCPs) agar lebih cepat dan adaptif.

Namun, kalangan pemerhati pendidikan menilai langkah ini terlambat dan tidak cukup agresif, mengingat krisis sudah terasa akut sejak 2023.


⚖️ Aspek Hukum: Pemerintah Bisa Dihadapkan ke Pengadilan

Sejumlah organisasi advokasi anak, seperti SEN Action Group dan National Autistic Society, telah mempertimbangkan class action lawsuit terhadap pemerintah daerah yang dianggap gagal memenuhi hak pendidikan anak sesuai Undang-Undang Pendidikan Anak dan Remaja Inggris.


Kesimpulan

Krisis kapasitas Sekolah Luar Biasa di Inggris mencerminkan tantangan besar dalam menjamin kesetaraan akses pendidikan bagi seluruh anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Tanpa respons cepat dan menyeluruh, ribuan siswa bisa kehilangan masa pendidikan krusial, yang dapat berdampak jangka panjang pada kualitas hidup mereka.

Pemerintah Inggris dihadapkan pada momen penting untuk membuktikan komitmen terhadap inklusi dan perlindungan kelompok rentan, bukan sekadar lewat retorika, tetapi lewat kebijakan konkret dan implementasi yang terukur.